Antrian Aplikasi Visa di KBRI Dili

Kategori:


Sub Kategory:


Label: KBRI Dili


Tanggal 19 Desember 2011 saya mengambil formulir aplikasi visa kunjungan di KBRI Dili, Timor Leste untuk suami saya yang berkewarganegaraan Kanada. Saya diberitahu petugas bahwa tidak ada lagi sistem nomer antrian, siapa cepat dia dapat. Keesokan harinya, dengan formulir yang sudah diisi lengkap, saya pergi mengantri pukul 7.30 pagi.

Kami diminta menunggu di jalan, sampai pintu dibuka. Antrian pada saat itu kira-kira mencapai 50 orang. Pada pukul 8.45 pintu dibuka dan mereka mengijinkan masuk 5 orang. Lima belas menit berikutnya, 5 0rang lagi. Pada saat ini mulai berdatangan orang-orang yang tidak mengantri, tetapi diijinkan masuk mendahului kami setelah mereka berbicara kepada sekuriti.

Lima belas menit kemudian, 5 orang lagi. 30 menit kemudian, sekuriti berbicara bahwa kelihatannya tidak mungkin lagi mereka menerima aplikasi. Orang-orang yang mengantri mulai resah. Kami berpikir tidak mungkin setelah 1 jam kerja mereka tidak menerima aplikasi lagi. Jadi kami, pengantri, yang notabene adalah warga Timor Leste, Kanada, USA, dan dari berbagai kebangsaan lainnya, memutuskan untuk sabar menunggu dengan harapan ada perubahan.

Selama kejadian ini berlangsung, banyak orang lain berdatangan, dan sekuriti tetap membiarkan orang-orang lain yang sepertinya sepertinya mendapat pass masuk spesial, masuk ke dalam kantor layanan setelah berbicara dengan sekuriti. Pada pukul 11 siang, matahari mulai terik, kami pengantri masih di jalanan depan gedung KBRI. Kami diberitahu kembali oleh sekuriti bahwa tidak ada lagi aplikasi yang diterima hari itu, dan harus kembali keesokan paginya.

Saya bertanya jam berapa saya harus datang agar aplikasi saya dapat diterima. Sekuriti menjawab untuk datang jam lima pagi, tapi tidak ada jaminan bahwa saya bisa masuk. Saya menanyakan ketidakadaan sistem nomor, yang membuat antrian tidak lancar. Sekuriti menjawab mereka membagikan nomor jam 8.30, saya heran sekali, karena tidak ada satupun dari kami yang melihat adanya pengambilan nomor. Pada pukul 11.30 saya dan suami memutuskan pulang dengan tangan kosong dan kecewa.

Kejadian ini memalukan sekali. Kedutaan besar adalah perwakilan Indonesia dan adalah pintu pertama yang dilihat pihak internasional sebagai wajah Indonesia. Jika pelayanan awal sedemikian buruknya, buruk pula kesan pertama yang diterima calon turis dan pengunjung tentang Indonesia.

Saya kira jika kita mau meningkatkan jumlah wisatawan menyaingi Malaysia yang jumlahnya mencapai 24,6 juta orang pada tahun 2010 (Indonesia hanya mampu mendapat kurang lebih 7 juta orang pada tahun 2010)-- sumber dari Wikipedia, kita harus memperhatikan juga pelayanan di perwakilan Indonesia di negara asing.

Dian Permata Saferina
LELI Building, Jl Masjid Nia Kotuk Kampung Alor, Kota Dili Timor Leste
Dili, Timor Leste

Komentar